Karena Takdir Akan Selalu Bermuara Kepada Pemiliknya
Setiap manusia berjalan di atas titian takdirnya sendiri.
Dahulu, saat jemari kita masih kecil, kita bermimpi untuk lekas dewasa. Kita membayangkan menjadi sosok yang mampu melangkah ke mana pun sendirian, memandang dunia dengan cakrawala yang lebih luas, dan mengunjungi tempat-tempat impian tanpa harus menunggu izin dari ayah maupun bunda. Kita hanya ingin menjadi sosok yang hebat, yang bebas menaiki wahana seru, bertamasya di taman, dan mengenakan pakaian tercantik yang kita punya.
Kini, jika orang-orang mengatakan bahwa kita sedang berjuang menggapai cita-cita, aku lebih suka menyebutnya sebagai perjalanan menuju muara takdir. Kita adalah pengelana yang menuju pulau-pulau bernama garis nasib. Engkau boleh memilih untuk berenang, mendayung rakit, atau menahkodai kapal megah demi mengarungi derasnya arus dan terjalnya bebatuan sungai. Namun ingatlah, air itu akan selalu mengalir ke tempat yang sama, karena begitulah takdirmu telah digariskan.
Di dunia yang penuh misteri ini, setiap kita membawa peran yang berbeda. Ada yang dikenal karena parasnya yang cantik, namun alangkah hambar jika hidup hanya dikenang sebatas rupa. Ada yang dikenal karena kecerdasannya, namun betapa percuma jika kepintaran itu hanya memupuk kesombongan. Maka, jadilah dikenal karena kebaikanmu. Sebab dalam kebaikan, akan tumbuh keikhlasan yang abadi.
Kebaikan tak pernah bertanya siapa yang paling pintar atau paling hebat, ia hanya mengenali siapa yang paling tulus dalam menebar kasih.
Kita tak perlu mencari takdir, takdirlah yang akan menemukan kita.
Kita menulis karena jemari kita telah ditakdirkan untuk merangkai kata. Kita melukis karena menjadi pelukis telah tercatat dalam buku takdir kita. Alam semesta tidak pernah melakukan kesalahan untuk mempertemukan setiap jiwa dengan garis hidupnya. Apa yang kita lakukan hari ini, adalah nafas bagi kehidupan kita di masa depan. Hobi yang kita cintai, bisa jadi adalah pekerjaan yang kita dapatkan kelak. Semua hanyalah soal waktu. Maka, jika engkau menginginkan sesuatu, jadilah sesuatu itu sekarang.
Jika rangkaian kata mampu membentuk sastra yang indah, maka hidupku adalah sebait puisi dalam sebuah nyanyian. Di dalamnya ada senandung rindu, lantunan tawa, dan mungkin sedikit rintik tangis. Namun, semuanya tetap indah dalam balutan diksi semesta. Jika tawa adalah tanda kita hidup, maka dengan tangis kita terlahir kembali. Marilah lahir kembali menjadi pribadi yang lebih tangguh, penuh semangat, dan berdedikasi.
Aku pun telah memilih takdirku sendiri.
Aku memilih untuk melukis wajahmu dalam ingatan, menuliskan puisi tentangmu, dan merawat kisahmu dalam hati. Semua itu kulakukan karena ada sebuah ruang di hidupku yang mengizinkanmu untuk masuk, juga tinggal di dalamnya. Bagiku, dirimu menyerupai malam, bulan sabit yang berusaha meniru lengkung senyummu, bintang-bintang yang ingin menandingi binar matamu, dan pekat malam yang sama anggunnya dengan helai rambutmu.
Kita menetap di sebuah tempat bukan hanya karena keinginan, melainkan karena di sanalah kita mampu tumbuh. Layaknya tanaman yang memiliki ekosistemnya masing-masing. Mungkin engkau adalah sebuah kaktus yang tegar, sayang. Maka beruntunglah engkau dipercaya Tuhan untuk tumbuh di sana, berdiri anggun dengan duri-durimu, serta akar kuat yang menopang tubuh mungilmu.
Ketahuilah, jika engkau menginginkan sesuatu, takdir akan membawamu ke sana. Entah untuk memilikinya, atau untuk memetik pelajaran darinya. Pun jika engkau bertemu seseorang, takdirlah yang menuntunmu pada pertemuan itu untuk membukakan jalan, entah lewat tutur katanya atau sikapnya.
Bersyukurlah atas setiap jiwa baik yang singgah dalam hidupmu.
Komentar
Posting Komentar