Lalu Suatu Saat Kamu Ingin Menjadi Apa?

Itu adalah pertanyaan yang aku takutkan dalam hidupku. Bahkan diriku sendiri tidak punya kuasa atas hidup, apalagi mati. Namun, jika ada yang bertanya, maka jawabanku adalah aku hanya ingin menjadi manusia.

Menjadi manusia selayaknya ia diciptakan sebagai apa dan untuk apa di dunia. Aku hanya ingin menjadi seperti itu—dengan akal untuk memilih, hati yang lembut untuk merasakan, serta jiwa yang lapang untuk menerima. Aku juga akan makan, minum, bekerja, belajar, lalu sesekali punya mimpi. 

Aku hanya ingin menjadi manusia seutuhnya yang memiliki kehidupan. Yang tak sekadar ada, tapi mampu hadir lalu merasakan. Karena terkadang, menjadi seorang pemimpi sering membuatku lupa bagaimana cara untuk hidup. Aku lupa bagaimana cara bernafas dengan tenang, serta lupa bagaimana berjalan dengan seimbang. Dunia mulai terasa hambar.

Ketika aku kembali mengulik pada makna bahwa manusia punya peran masing-masing, maka aku mulai mengerti. Profesi yang kamu jalani, tempat dimana kamu duduk maupun siapa yang kamu temui, adalah sesuatu yang diizinkan oleh Tuhan untuk membersamaimu di kehidupan ini.

Tempat dimana kamu duduk, ialah tempat belajar sekaligus tempat yang membutuhkan kehadiranmu. Tempat tersebut bahkan mungkin telah “merindukanmu” sejak lama, jauh sebelum kamu menyadarinya.

Orang-orang yang hadir, mereka bukan sekadar singgah. Tidak ada hal yang kebetulan. Barangkali mereka adalah orang yang akan membantumu, maupun malah tugasmu untuk dapat membantu mereka. Dari sekian milyar manusia di bumi ini, hanya ada beberapa orang yang diizinkan oleh Tuhan untuk dapat menemuimu. Orang yang dapat berbicara denganmu dan masuk ke dalam kehidupanmu. Entah mereka hadir untuk memberimu ujian atau bahkan membantumu menyelesaikan ujian kehidupan. 

Tidak semua orang harus menjadi guru yang bicara dengan bijaksana, penulis yang pandai merangkai diksi, seniman yang lihai mengabadikan sebuah momen, teknokrat yang merancang teknologi, dokter yang mampu menyembuhkan raga yang sakit, maupun pilot yang mampu membelah angkasa. Demi alam semesta dapat berjalan selaras, setiap hal diciptakan secara teliti dan seimbang sesuai perannya. Entah karakter apa yang kamu jalani sekarang, maka lakukanlah peranmu dengan baik. 

Segala sesuatu yang terjadi pastilah memiliki alasan, yang mungkin baru dapat kita pahami setelah melewatinya. 


Let us think with the beauty of empathy,
listen with depth of heart, and
speak with confidence wrapped in kindness.

 

Yang perlu dipahami ialah, dunia ini penuh dengan abu-abu 

Tak ada yang sepenuhnya hitam, serta pula tak ada yang sepenuhnya putih. Bagi orang lain, warna putih mungkin nampak hitam, serta warna hitam nampak putih. Kebenaran adalah sesuatu yang didasarkan pada kebiasaan. Kebiasaan menilai berdasarkan keputusan kebanyakan orang. Namun sayangnya, tak berarti sesuatu yang disepakati itu menjadi kebenaran, sebab sesuatu yang nampak keliru belum sepenuhnya salah.

Sebagai seorang manusia, menilailah dengan penuh empati. Tunjukkanlah kebijaksanaanmu melalui empati. Berbesar hatilah kamu untuk dapat mendengar sebelum menyimpulkan dan memahami sebelum menghakimi. Barangkali, ada kebenaran lain yang tak nampak mata. Barangkali, ada luka yang membuatnya terpaksa melakukan perbuatan yang salah di mata orang lain.

Jika memang tidak bisa membantu, setidaknya jangan membebaninya dengan terus menyalahkannya. Mungkin, yang ia butuhkan adalah dukungan. Mungkin, itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan supaya ia bisa tetap hidup. 

 

Jika ditanya, mengapa harus terus belajar? 

Mungkin jawabannya, aku hanya suka memahami dunia dan aku mencintai pengetahuan. Aku hanya senang apabila aku mengerti suatu hal yang sebelumnya aku tidak tahu. Aku hanya suka mengaitkan satu hal dengan hal lain, lalu membentuk imajinasi dalam dunia ide yang ada di kepala. 

Seperti kata Platoseorang filsuf, ia berpendapat bahwa dunia fisik yang kita lihat hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia ide yang nyata dan abadi. 

Maka kesempurnaan adalah apa yang ada di dalam kepala. Oleh karena itu, terkadang apa yang kita lakukan selalu terasa tidak sempurna, karena yang di kepala—dunia ide, berbeda dengan kenyataan yang kita lakukan.

Dan menurutku, jika alasan kita untuk pendidikan hanyalah untuk harta dan kekuasaan, kupikir itu hanya akan membuat manusia mudah putus asa. Sebaiknya, lakukanlah sesuatu karena kamu ingin melakukannya, bukan harus melakukannya. Keinginan dapat membawa cinta, namun keharusan dapat membawa tekanan yang mendorong seseorang untuk membenci. 


Mengapa setiap manusia harus dewasa?

Menjadi manusia dewasa artinya menjadi manusia yang dibebaskan. Menjadi dewasa ialah tahu perbuatan apa yang harus dilakukan. Engkau bebas memilih hal yang ingin kamu akukan, lalu bertanggung jawab atasnya. 

Kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah ilusi, tanggung jawab tanpa kebebasan hanyalah penjara.

Aku pun pernah melepaskan kesempatan, hari dimana aku tidak menggunakan kebebasanku dalam memilih sebuah jalan. Kesempatan yang seharusnya menjadi milikku, yang bisa mengantarkanku menuju impian-impian besar ternyata hilang. Namun, tak ada gunanya lagi menginginkan hal yang hanya akan membawa kesedihan yang berlarut. 

Sebagai manusia dewasa, aku masih memiliki kebebasan yang lain. Aku masih bisa memilih antara larut dalam kesedihan, atau bangkit. Dan kamu pasti tahu apa yang seharusnya dipilih.

Hal tersebut mengajarkanku bahwa kita tetap bisa menjadi apa yang kita impikan—jika kita mau. Yakinlah bahwa kesempatan-kesempatan lain yang lebih baik akan selalu datang menghampiri jiwa yang ikhlas.


Komentar

Postingan Populer