Mengalir Layaknya Air, Berjalan Layaknya Siput

Jangan pinta kepada air untuk tidak jatuh ketika waktu hujan telah tiba, mendung telah menyelimuti angkasa, dan gemuruh awan telah bergema. 

Mungkin ini bukan tentang air

Air hanya menjalankan tugasnya sebagai hujan, yang membawa berkah bagi tanah-tanah yang gersang. Kitalah yang seharusnya menyesuaikan dengan lingkungan, menyelaraskan diri dengan alam semesta, selayaknya tugas kita di bumi sebagai seorang khalifah—Penjaga.

Begitu pula dengan manusia. Jika memang ada manusia yang pernah menggores hatimu, itu karena manusia hanyalah manusia. Jangan marah apabila hal tersebut terjadi, karena ia hanya menjalankan tugasnya di bumi dengan penuh ketidaksempurnaan. Maka maafkanlah ia, juga berbelas kasihlah kepadanya. 

Kebanyakan dari mereka, akan mengajarkanmu pelajaran berharga. Tentang penerimaan, tentang ikhlas, juga tentang sabar. Karena tidak ada sesuatu yang diciptakan secara sia-sia. Kamu akan dapat menemukan retak mana yang harus kamu perbaiki, juga celah mana yang harus kamu lengkapi.

Dan jika memang ada kejadian yang membuatmu putus asa, alam semesta pun hanya bekerja sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi, tidak terlalu lambat, pun tidak terlalu cepat.

Hati manusia memang diciptakan untuk dapat merasa. Maka janganlah kamu menyalahkan hatimu atas apa yang telah menimpamu, baik itu rasa marah ataupun kasih, kecewa ataupun bangga, dan benci ataupun cinta. Terimalah segala rasa yang tinggal, lalu biarlah waktu yang mengurus kesudahannya. Jangan biarkan hatimu menderita dengan menolak perasaan itu, jangan pula buat hatimu gelisah dengan memikirkan yang tidak pernah terjadi—Itu membuatnya takut untuk bermimpi.

Semenjak kapan kamu mulai tidak bertanya lagi mengenai isi hatimu? Dengarkanlah lagi suaranya yang telah lama hanya menyimpan sunyi. 

Jiwamu layaknya tanaman di dalam pot, jika ia sudah tumbuh menjulang, maka sudah waktunya ia untuk berpindah ke pot yang lebih besar. Jika tidak, maka akar-akarnya akan membunuh dirinya sendiri dan menjebaknya secara perlahan. 

Carilah tempat dimana kamu bisa belajar lebih banyak, mengerti lebih dalam, dan mendengar lebih lama. Tempat dimana kehadiranmu diharapkan.

Aku hanyalah seekor siput kecil

Kecil, lamban, dan sering kali lebih memilih bersembunyi dalam sunyi yang kuciptakan sendiri. Aku berjalan perlahan, membawa rumahku di punggung, membawa mimpiku di dalam diam. 

Orang-orang mungkin melihatku terlalu pelan, terlalu sederhana, terlalu jauh tertinggal. Namun mereka tak tahu, setiap langkahku memiliki arah. Setiap jejak kecil yang kutinggalkan adalah bagian dari perjalanan yang kupilih dengan sadar. 

Aku tidak berlari, karena aku tidak sedang berlomba. 
Aku tidak tergesa, karena tujuanku bukan sekadar cepat, melainkan sampai. 
Dan meski langkahku lambat aku tetap bergerak, meski kecil aku tetap bertumbuh. Sebab bagiku, yang terpenting bukan seberapa cepat aku tiba, tetapi bahwa aku terus melangkah—hingga akhirnya aku benar-benar sampai.

Terkadang, berjalan dengan cepat membuatmu bingung dan hilang arah. Apa yang dilakukan terkadang terasa hampa. Karena saking cepatnya dirimu berlari, kamu lupa merasakan setiap detik yang kamu jalani, kamu lupa berbicara pada dirimu sendiri, hingga akhirnya kamu tersadar. 

Apakah ini dunia yang kamu inginkan?
Apakah kamu menyukai hal yang sedang kamu jalani?
Apakah jalan yang kamu pilih masih kuat untuk kamu tempuh?

Melamban bukan berarti ragamu lemah, pun bukan berarti telah kalah. 
Melamban ialah cara agar dirimu tetap bernafas dengan lega di tengah riuhnya dunia—orang bilang itu slow living.



Komentar

Postingan Populer