Dengarkanlah hatimu yang bicara lewat keinginan-keinginan, harapan-harapan
Mengapa kita menjalani kehidupan ini?
Setiap manusia tidak tahu untuk apa mereka diciptakan di dunia, namun cinta Allah akan menjawab segalanya. Allah mencintai makhluk yang diciptakan-Nya, Allah memberimu kehidupan karena Ia mencintaimu, Allah ingin kamu meraih apa yang seharusnya kamu raih. Allah menugaskanmu untuk beberapa hal yang akan disampaikan melalui bahasa yang sederhana, yang perlu hati yang tulus untuk dapat membacanya. Bukan melalui tulisan yang dapat dibaca seluruh dunia, tapi melalui bahasa hati yang tulus, yang murni. Bahasa itu tumbuh dari rasa kasih sayang, tumbuh dari rasa kepedulian terhadap sesama, tumbuh dari rasa memiliki, tumbuh dari rasa memercayai, tumbuh dari ingatan, tumbuh dari masa lalu.
Jika memang dalam buku takdir segalanya telah ditetapkan, maka yakinlah bahwa sesuatu yang dituliskan untukmu atas dasar cinta. Jika memang sang Maha Pencipta merestuimu akan suatu hal, pasti engkau akan diizinkan-Nya untuk mendapatkannya.
Sesuatu yang memang untukmu, tidak perlu kamu khawatirkan, tidak perlu kamu ragukan. Hal tersebut akan selalu memanggilmu, dalam setiap bayanganmu, dalam setiap mimpi di malam yang sunyi, dalam setiap doa, dalam setiap langkah, dalam setiap niat baik yang muncul dalam hati.
Sesungguhnya, hatimu telah berbicara dalam bahasa yang sederhana
Dengarkan kata mereka yang bersuara lewat keinginan-keinginan, harapan-harapan. Jangan biarkan hatimu mati, dan selalu dengarkanlah mereka. Mereka adalah bahasa Tuhan yang akan menunjukkanmu jalan kemana engkau harus melangkah pergi, bahkan mungkin ke tempat-tempat yang sebelumnya kamu benci, karena barangkali engkau akan jadi sangat mencintai takdirmu.
Percayalah kepada Dzat yang merawatmu. Ia Maha Mengetahui di tempat mana kamu dapat tumbuh subur layaknya pohon yang berdiri gagah, bersama dengan alam semesta dan seisinya yang akan membantumu untuk menunjukkan arah. Dalam perjalanan meraih mimpimu, kamu akan semakin dekat dengan Penciptamu.
Segala sesuatu telah dipersiapkan,
Maka persiapkanlah pula dirimu dalam menerima seluruh takdirmu, karena kesempatan tersebut akan selalu datang kepada manusia yang telah siap. Janganlah engkau merasa sendirian. Kelak, akan ada sesorang yang selalu menunggu kedatanganmu, entah dirinya ada didekatmu, maupun di kota-kota besar. Ia yang akan mampu membaca isi hatimu, dan memahami seluruh jiwamu. Karena sesungguhnya jiwa kalian adalah satu, yang nantinya akan dipersatukan kembali dalam balutan kasih sayang-Nya.
Langit berotasi tiap harinya, matahari berputar tiap tahunnya, silih berganti tahun, bulan, serta pergantian antara siang dan malam. Kepada raga yang kamu tempati, rumah bagi jiwa yang masih dapat mengerti, cintailah apa yang ada dalam dirimu. Karena sejatinya, hal yang diberikan padamu itu hanyalah hal kamu perlukan, tidak ada hal lain yang kamu butuhkan selain apa yang ditakdirkan bagimu. Semua ada takarannya, semua ada porsinya, karena baik alam semesta dan seluruh jiwa yang ada, diciptakan oleh yang Maha Segalanya, Maha Pengasih dan Penyayang. Bahasa cinta Allah itu sangat indah. Allah berbicara lewat hembusan angin di kala siang, rintik hujan dikala sore, garis matahari di waktu senja. Semua memiliki arti.
Prinsip Amorfati
Dalam amorfati, apa yang ditakdirkan kepada diriku tidaklah kurang atau lebih. Tidak terlalu sedikit maupun terlalu banyak, juga tak kurang suatu apapun. Semua memang layak diterima dan diriku pantas menerimanya. Sebab, seseorang akan mendapatkan sesuatu bukan dikarenakan oleh hal lain, tapi karena ia memang pantas dan layak menerimanya. Alam semesta selalu tepat sasaran dalam memberikan berkah kepada sesuatu yang ia pelihara, serta Tuhan telah menetapkan bahu yang sesuai dalam memberikan tanggung jawab.
Tugas kita selama ini hanyalah mencari ilmu dengan belajar
Belajar mengajarkan kita bahwa kesalahan perlu diperbaiki, sebuah pertanyaan pasti selalu ada jawabannya, dan pengetahuan dapat memberikan keberanian. Maka belajarlah, bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi demi menghapuskan kebodohan.
Salah satu kutipan berkata bahwa:
"Jika tujuanmu mencari ilmu hanya untuk bersaing dengan teman-temanmu, mencari perhatian manusia dan mengumpulkan harta dunia, maka kamu sedang berusaha merobohkan agamamu, menghancurkan dirimu, dan menjual akhirat dengan dunia"
Komentar
Posting Komentar