Hanyalah Tulisan yang Sebaiknya Kamu Baca

Maka tolong tetaplah hidup,

Demi secangkir teh yang kamu teguk di waktu pagi,

Demi melihat burung-burung pipit beterbangan di kala senja

Demi seseorang yang menjadikanmu alasan masih punya semangat hingga saat ini

Entah bagaimana dunia berjalan

Entah dengan hiruk pikuknya, mesra laranya

Walau mereka hanya seperti angan yang berlalu lalang

Bagaikan angin yang yang membawa terbang daun-daun rapuh di musim gugur

Ku mohon, 

Tetaplah hidup wahai jiwa yang bernyawa


Kita memang tidak tahu kedepannya dunia ini akan berjalan ke arah mana, karena takdir tidak dapat diketahui oleh semua manusia. Namun, dari orang-orang yang pernah aku temui, kebanyakan dari mereka yang bisa berdamai dengan kehidupan, mereka ialah orang-orang yang berani.

Orang-orang yang berani mengorbankan hatinya...
Mereka merelakan hatinya rapuh, teriris, remuk, bahkan dimakan oleh orang lain. Yang mereka harapkan bukan lagi soal ketenangan hati, namun untuk sekedar hidup lebih layak lagi.

Orang-orang yang berani mengorbankan egonya...
Mereka bisa dengan tenang menjauhi orang-orang yang dapat menyakitinya, menjauhi lingkungan orang-orang yang hanya pandai melayani nafsunya saja.

Orang-orang yang berani menjadi berbeda, memiliki pola pikir yang jauh melampaui manusia-manusia pada umumnya. Mereka yang berani memandang dunia dengan kacamata versinya sendiri dan tidak takut dihakimi. Karena bagi mereka, dunia ini miliknya, bukan dunia yang memiliki mereka. Maka tidak sepatutnya ia menjadi boneka yang bisa dikendalikan siapa saja, bahkan oleh dunia yang terus mendesaknya.

Orang-orang yang tidak hanya berdamai dengan penderitaan, tapi merekalah bagian dari penderitaan itu. Mengambil langkah berani dengan menanggung semuanya sendirian, disertai dengan kebesaran hati yang dimilikinya. Ia tak pernah sekalipun menoleh kepada orang lain agar merasakan penderitaan yang sama.

Ternyata, masih banyak sekali orang-orang yang harus berjuang lebih susah. Mereka yang dituntut bangun lebih pagi, bekerja lebih keras, belajar lebih giat, dan yang membuatku kagum adalah mereka selalu terlihat baik-baik saja. Tak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Maka ingin aku tegaskan lagi, manfaatkanlah kesempatan-kesempatan.

Jika kamu berdoa untuk kesuksesan, maka Tuhan memberimu kesehatan supaya kamu bisa belajar dengan giat. Mata yang selalu berfungsi dengan baik, dan telinga yang dapat mendengar dengan jelas.

Jika kamu mengeluh bahwa kamu lelah, ingatlah bahwa Tuhan selalu menenggelamkan matahari dikala sore, supaya malam datang dan menjadi waktu bagi dirimu untuk beristirahat. Lalu Ia mendatangkan pagi, cahaya matahari yang selalu menyapamu dengan lembut dan memberimu semangat untuk menjalani harimu pada saat itu. 

Ada yang hidupnya lebih susah, tapi tak sekalipun ia menunjukkan raut kesedihan di wajahnya, namun tetap memberikan kehangatan bagi yang lain. Saat dimana dunia tidak berpihak kepadanya, ia tetap memihak orang lain. Ia tetap berbesar hati kepada orang lain, meski dirinya dilanda musibah yang besar.

Ada yang memiliki keterbatasan, tapi juga tak sekalipun ia menganggap bahwa keterbatasan itu akan menjadi penghalang. Karena bagi mereka, yang menjadi penghalang ialah pikiran yang menganggap dirinya tidak bisa, dirinya tidak mampu, dirinya tidak akan kuat.

Akan selalu ada cara untuk pergi ke suatu tempat. Tidak harus memiliki kendaraan. Kita masih punya kaki untuk berjalan. Kita masih punya mata untuk melihat arah.

Jika waktu yang dibutuhkan lama, berarti harus lebih pagi. 

Jika masih belum ada kepastian, berarti harus tetap menunggu.

Jangan pernah berharap.

Jangan pernah bergantung.

Kebebasan

Karena tidak semua orang memiliki kebebasan. Kebebasan memilih takdirnya, tempat tinggal, juga keluarga. Dan tak semua orang juga memiliki kebebasan dalam hal pendidikan. Ada yang memang harus bekerja, ada yang harus membantu adik dan orang tuanya, ada yang masih punya urusan dunia yang harus diselesaikan hingga memilih untuk mengubur mimpinya dalam-dalam.

Tidak semua orang punya kebebasan bermimpi, maka bersyukurlah kamu telah diberikan kebebasan dalam memilih mimpimu. Berbahagialah.

Namun, semua itu tetap kembali kepada jiwa masing masing. 

Jiwa yang ikhlas, akan memilih untuk berdamai dengan takdirnya. Memilih untuk menikmati hidup ala kadarnya. Jangankan bermimpi, terkadang tidur saja masih belum bisa pulas.

Jiwa yang tulus, akan menerima keseluruhan hal yang datang kepadanya dengan kebesaran hatinya. Ia tidak pernah bertanya kepada alam semesta mengapa hal ini terjadi padaku? Namun, ia tetap berharap apa yang dialaminya tidak terjadi pada diri orang lain.


Komentar

Postingan Populer